We were married in the village of Gekbrong siri, Sukabumi on 3-7-1986.
Why? Because we both do not want to start our love life through the wrong path and not diridhoi Him.

We were married three months earlier than Panjaitan Christine, my husband's ex-boyfriend at college at the University of Indonesia first. Where even when we were married even though since the Gekbrong, Sukabumi, the Chris - Ikang favorite nickname on him - still often called Ikang Fawzi beloved husband only 'just' to vent against all SACRIFICE him for his first love - who else if not Ikang Fawzi beloved husband!

Hhhhh ... according to family Ikang INFO from his home, the news until about sacrifice and suffering is because of over 4 (four) years should be dating a back street, so as not known by the mother of Chris named Nurmala Sitompul Panjaitan. Even a pile of photos of the Chris and love letters bound in a colorful still stacked 'buried' under the marriage bed husband siriku Ikang Fawzi his parents home on Jl. Garuda Citadel 64, Pasar Minggu, South Jakarta after we were married in mid-year 1986.
After kuprotes, eventually with full consciousness accompanied accompaniment perminatan sorry, but the three of us which consisted of me, Ikang, and the origin Mbok Kampung Lebak in Banten (which had brought mother-in-law dearest Mother Yuya to Brussels-Belgium, Tokyo, Japan, to the KL -Malaysia) to burn the entire collection of photographs of ex-Christine Ikang all correspondence follows the story of love-love them both.
For the last time I read the welcome letter sent Ikang Chris who came from Taiwan, when he Mandarin language summer course (summer study in Taipei) for three months at his own expense. Fill in Christine's love letter to my husband Ikang it was obvious that even though they are both still very much in love but began to think to split up because of fatigue dating back street!
However, in the letter, there is something very mencekat throat. That is when the last letter in the temple to Ikang Fawzi Christine stating my husband / writing that how she got very excited and happy / happy when menerimatelpon Ikang from Jakarta for him.
Oops! merely for the fulfillment of desire miss them both because for too long separated? Though separated only 3 (three) months! And ... duh! Is not when the Christine Panjaitan to Taipei and then, I've 'invented' the same Ikangku dear? Ooo ... my God!

Yes Allaaah ... some uncomfortable incidents that occurred in the past hearts, due to its boom-era re-fashion-film-music art and so forth all the 80's, forcing the memory to recall past memories. Not only is sweet but with a package that does not retain too sweet with very neatly in the subconscious / under consiousness!
Therefore until this moment in 2010, when the program design and Ida Sys NS Arimurti on Metro TV back on the rise, from the titled ranging from Zone 80 to Zone Memory. Then followed a couple of times lifting songs by Rinto Harahap which I guess is made on the basis of incidence of broken love the singers - including a broken love Ikang Fawzi Christine Panjaitan against my husband's beloved. Transform hearts this discomfort and became increasingly! Especially, when they are implicitly asking "Hand It Up" as metapohor of the story of love-love-Ikang jeblog Christine!
Minor memories of what Christine had done to my husband Ikang Fawzi Panjaitan when we have legitimate become husband and wife in the eyes of God, became suspicions of the relationship they sustain sustainable (sustainable suspetious). I'm guessing that when they separated they are still''very-very-too "love one another. Proven in active communication from them, even though when we've officially become husband and wife in the year 1986.
Initial parameters for me why a 'suspicion' as it is, when Christine Ikang Fawzi still miss my husband when he was over 3 (three) months of summer study! And I've become Beloved Ikang Panjaitan when Christine was in Taipei, Taiwan!
Ah! Had I not caught by that time, certainly not a major problem this day in 2010, related to the whole again and hits a back Rinto Harahap sung by Christine Panjaitan us in various television in this country. However, the greatness of love Ikang Fawzi her ex husband to Christine Panjaitan in Taipei-Taiwan since then until 2010, kucemburui is eternal!
Yes Allaaaah ... whether there is something 'extraordinary' that ever happened between them both so so sacred it was their relationship?

Such a 'back street outside biasanya'kah relationship they have run with neatly stored for 4 (four) years behind the backs Mother Nurmala Sitompul?
How much I do not know about the relationship between the two of them never happened. Rinto Harahap I am not willing to 'take advantage' of what happened and take the advantage of him financially. I just do not want to share with any woman from the past that my husband thought I was going back to the year 2009-2010 and above this.
The days ahead of this middle-aged, I want full ... full ... full to have one hundred percent of heart-love-sweet memories along with Zulfikar Ahmad Fawzi (Ikang Fawzi) husband alone wayangku.
Program design and Ida Sys NS Arimurti on Metro TV and television in this country entitled lainnnya start of "Zone 80" up to "Memory Zones" featuring Christine Panjaitan with maudlin songs Rinto Harahap work, based on a broken love story with Ikang Fawzi My husband is the great disasterous' for our emotional relationship as husband and wife.
This is a test of patience for the love of my husband's beloved abadiku, Ikang Fawzi, heading for our silver wedding (to 24 years) on this tomorrow 3-7-2010. Allahu Akbar!
Simak
Baca secara fonetik

Kami menikah siri di Desa Gekbrong, Sukabumi pada 3-7-1986.
Kenapa? Karena kami berdua tidak ingin memulai kehidupan cinta kasih kami melalui jalan yang salah serta tidak diridhoi-Nya.

Kami menikah tiga bulan lebih dahulu dari Christine Panjaitan, mantan pacar kuliah suamiku saat di Universitas Indonesia dulu. Dimana bahkan disaat kami telah menikah sekalipun sejak di Gekbrong, Sukabumi, si Chris--nama panggilan kesayangan Ikang pada dia--masih sering menelpon Ikang Fawzi suamiku tercinta hanya 'sekedar' untuk curhat terhadap seluruh PENGORBANAN dia untuk lelaki cinta pertamanya--siapa lagi kalau bukan Ikang Fawzi suamiku tercinta!

Hhhhh... menurut INFO dari keluarga Ikang dirumahnya, berita yang sampai adalah tentang pengorbanan serta penderitaan karena selama 4 (empat) tahun harus pacaran back street, agar tidak diketahui oleh ibu Chris bernama Nurmala Sitompul Panjaitan. Bahkan setumpuk photo si Chris dan surat-surat cinta bersampul warna-warni masih bertumpuk 'tertimbun' dibawah tempat tidur suami nikah siriku Ikang Fawzi dirumah orang tuanya di Jl. Benteng Garuda 64, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pasca kami menikah dipertengahan tahun 1986 lalu.
Setelah kuprotes, akhirnya dengan kesadaran penuh disertai iringan perminatan maaf, kami bertiga yang terdiri dari saya, Ikang, dan si Mbok asal Kampung Lebak di Banten (yang pernah dibawa ibu mertuaku tercinta Ibu Yuya ke Brussel-Belgia, Tokyo-Jepang, sampai ke KL-Malaysia) membakar seluruh foto-foto bekas koleksi Ikang-Christine berikut seluruh surat-menyurat kisah-kasih cinta mereka berdua.
Untuk yang terakhir kali saya dipersilahkan Ikang membaca surat yang dikirim Chris yang datang dari Taiwan, saat dia kursus musim panas bahasa Mandarin (summer study di Taipei) selama tiga bulan atas biayanya sendiri. Isi didalam surat cinta Christine untuk Ikang suamiku tersebut terlihat jelas bahwa walau mereka berdua walau masih sangat saling mencintai namun mulai berpikir untuk berpisah karena kelelahan pacaran back street!
Namun, didalam surat tersebut, ada hal yang sangat mencekat tenggorokanku. Yaitu ketika dibait terakhir surat Christine untuk Ikang Fawzi suamiku yang menyatakan/tertulis bahwa betapa dia menjadi sangat bersemangat dan bahagia/senang tatkala menerimatelpon Ikang dari Jakarta untuknya.
Ups! sekedar untuk pemenuhan hasrat rindu mereka berdua karena terlalu lama berpisah? Padahal berpisah hanya 3 (tiga) bulan saja! Dan... duh! Bukankah disaat si Christine Panjaitan ke Taipei lalu, saya sudah 'jadian' sama Ikangku terkasih??? Ooo... my God!

Ya Allaaah... beberapa kejadian tak nyaman dihati yang terjadi dimasa lalu, dikarenakan boom-nya kembali era mode-seni musik-film-dan lain sebagainya serba the 80's, memaksa memori ini me-recall kembali kenangan masa lalu. Bukan hanya yang manis namun paket dengan yang tidak manis yang ter-retain dengan sangat rapih dalam alam bawah sadar/under consiousness!
Karenanya sampai detik ini ditahun 2010, ketika program rancangan Sys NS dan Ida Arimurti di Metro TV kembali naik daun, dari yang bertajuk mulai dari Zona 80 sampai dengan Zona Memori. Lalu diikuti beberapa kali mengangkat lagu-lagu karya Rinto Harahap yang saya duga dibuat atas dasar kejadian patah cinta para penyanyinya--termasuk patah cinta Christine Panjaitan terhadap Ikang Fawzi suamiku tercinta. Menjelmakan rasa tidak nyaman dihati ini dan semakin menjadi-jadi! Terutama, ketika secara implisit mereka menanyakan "Tangan Tak Sampai" sebagai metapohor dari kisah-kasih cinta jeblog Christine-Ikang!
Kenangan minor atas apa yang pernah dilakukan Christine Panjaitan kepada suamiku Ikang Fawzi ketika kami telah sah menjadi suami-istri dimata Allah, menjadi kecurigaanku atas hubungan cinta sustain mereka yang berkelanjutan (sustainable suspetious). Saya menduga ketika mereka berpisah mereka masih ''teramat-sangat-kelewat" saling mencintai satu dengan lainnya. Terbukti pada komunikasi yang masih aktif dari mereka berdua, bahkan walau ketika kami sudah resmi menjadi suami-istri pada tahun 1986 lalu.
Parameter awal bagi saya kenapa menjadi 'curigaan' seperti itu adalah, ketika Christine masih merindukan Ikang Fawzi suamiku kala dia selama 3 (tiga) bulan summer study! Dan saya sudah menjadi Kekasih Ikang saat Christine Panjaitan berada di Taipei-Taiwan!
Ah! Kalau saja tidak ketahuan oleh saya saat itu, tentu bukan menjadi masalah besar hari ini ditahun 2010, terkait dengan seluruh lagi-lagu hits Rinto Harahap yang kembali dinyanyikan oleh Christine Panjaitan diberbagai televisi ditanah air kita. Namun, keagungan cinta Ikang Fawzi suamiku dengan Christine Panjaitan mantannya sejak di Taipei-Taiwan lalu sampai dengan tahun 2010, kucemburui sangat abadi!
Ya Allaaaah... apakah ada sesuatu 'yang luar biasa' yang pernah terjadi diantara mereka berdua sehingga sedemikian SACRED-nya hubungan mereka tersebut???

Sedemikian 'luar biasanya'kah hubungan back street yang telah mereka jalankan dengan rapih tersimpan selama 4 (empat) tahun dibelakang punggung Ibu Nurmala Sitompul???
Betapa banyak yang tak saya ketahui tentang hubungan yang pernah terjadi diantara mereka berdua. Saya bukan Rinto Harahap yang bersedia 'take advantage' atas apa yang terjadi dan mengambil menjadi keuntungan finasial dari padanya. Saya hanya tak ingin berbagi dengan perempuan manapun dari masa lalu suami yang saya duga terjadi kembali saya pada tahun 2009-2010 keatas ini.
Dimasa menjelang separuh baya ini, saya ingin full...full...full memiliki seratus persen hati-cinta-kenangan manis bersama Ahmad Zulfikar Fawzi (Ikang Fawzi) suami semata wayangku.
Program rancangan Sys NS dan Ida Arimurti di Metro TV maupun televisi lainnnya ditanah air yang bertajuk mulai dari "Zona 80" sampai dengan "Zona Memori" yang menampilkan Christine Panjaitan dengan lagu-lagu cengeng karya Rinto Harahap, berdasarkan atas cerita patah cintanya dengan Ikang Fawzi suamiku merupakan the great disasterous' bagi hubungan emosional kami sebagai suami-istri.
Inilah ujian kesabaran atas cinta abadiku pada suamiku tercinta, Ikang Fawzi, menuju perkawinan perak kami (ke 24 tahun) pada tanggal 3-7-2010 besok ini. Allahu Akbar!

1 comments

  1. Merah-putih Sandro Tobing // January 9, 2011 at 3:48 AM  

    airin rachmi diany, Koruptor Banten, ipar ratu atut chosiyah

    Ditanya JPU, Chasan Sochib Berang

    thursday, July 24, 2008 Diposting oleh Banten Corruption Watch

    Label: H.Chasan Sochib bapak airin rachmi diany walikota tangsel 2010 Ditanya JPU, Chasan Sochib Berang Selasa, 22-Juli-2008, 07:49:41

    Radar Banten SERANG – Senin (21/7), Direktur Utama PT Sinar Ciomas Raya Contractor (SCRC) Chasan Sochib kembali dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalan lingkar dan drainase Pasar Induk Rau (PIR) di Pengadilan Negeri Serang.Dalam sidang, dia marah besar ketika ditanya jaksa penuntut umum (JPU). Hal itu terjadi ketika salah satu JPU dalam perkara tersebut, Edi Dikdaya, menanyakan tentang bukti tertulis yang mendasari pembangunan jalan lingkar dan drainase PIR.

    Dengan nada tinggi, Chasan Sochib justru balik bertanya, “Ada eksekutif dan legislatif di sini nggak?.” Edi Dikdaya tidak menanggapi pertanyaan itu lantaran pertanyaannya tidak dijawab saksi. Sikap itu justru membuat Chasan Sochib naik pitam dan menuding-nuding JPU. “Ini jelas mau membenar-benarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Ini mau menghancurkan NKRI,” tukasnya seraya meminta wartawan mencatat perkataannya dan meminta kuasa hukum Aman Sukarso, Efran Helmi Juni dan Gusti Endra, berbicara.

    “Ngomong, jangan diam saja,” katanya. Perintah ini dituruti kuasa hukum, namun ketika Helmi Juni dan Gusti Endra hendak bertanya mengenai proyek PIR, Chasan Sochib marah lagi. “Geus, ulah ngomong proyek, lieur (Sudah, jangan bicara proyek, pusing-red),” tukasnya.

    Melihat itu, Ketua Majelis Hakim Maenong didampingi Sabarudin Ilyas dan Toto Ridarto memutuskan untuk menghentikan kesaksian Chasan Sochib. Sikap tersebut tidak ditunjukkannya pada awal persidangan. Menurut Chasan Sochib, pembangunan jalan lingkar dan drainase PIR adalah permintaan mantan Bupati Serang Bunyamin lantaran Pemkab Serang tidak memiliki anggaran pembangunan.

    Padahal, PIR akan diresmikan Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri. Saksi menyerahkan pula bukti berupa surat tentang permohonan dari Pemkab Serang kepada Gubernur Banten untuk membantu pembayaran jalan akses 5 link PIR.

    Surat bernomor 620/2477/Dal_Bang tertanggal 9 Mei 2006 tersebut ditandatangani Bupati Serang Taufik Nuriman. Dia juga menyerahkan kopian surat bernomor 170/595/DPRD tak tertanggal yang ditandatangani Ketua DPRD Kabupaten Serang Hasan Maksudi. Surat itu berisi rekomendasi dari DPRD Kabupaten Serang agar Bupati Serang memohon bantuan pembayaran jalan lingkar PIR kepada Gubernur Banten.

    Kendati demikian, saksi mengakui, proyek senilai sekitar Rp 9 miliar tersebut tidak dilakukan melalui proses pelelangan. Surat Perintah Kerja (SPK), diakuinya pula tidak diterbitkan. “Kalau nunggu tender, nunggu SPK, nggak jadi diresmikan presiden. Padahal itu kan kebangggaan,” katanya. Mantan Kabid Anggaran Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Serang Komarudin juga dihadirkan sebagai saksi. Seperti saksi-saksi sebelumnya, dia juga mengatakan jika pembayaran proyek senilai Rp 1 miliar diambil dari pos pemeliharaan jalan dan jembatan APBD Kabupaten Serang 2005.

    Lantaran Keputusan Gubernur Banten mengenai penggunaan bantuan block grant belum turun. “Makanya, kita membahasnya karena kondisi saat itu adalah kondisi tidak normal atau darurat. Merujuk pada Pasal 28 ayat (4) UU RI Nomor 17 Tahun 2003, kami memutuskan untuk menerbitan Surat Keterangan Otorisasi (SKO) sebagai dasar pembayaran yang sifatnya mendahului anggaran,” terangnya sambil mengatakan, pos pemeliharaan jalan dan jembatan itu terbayar saat dana block grant dicairkan pada penetapan APBD Perubahan 2005. (dew)

    9 Januari 2011 02.18